Selasa, 15 September 2015

Dia mah Cuma Orang Biasa

H. Memed (Tokoh Masyarakat, Pensiunan Pegawai Depag)

Dia mah Cuma Orang Biasa

Saat orang ramai berda-tangan ke rumah Saefudin yang telah menemukan ‘emas Soe-karno’ dan semakin dianggap sakti itu, H. Memed yang meru-pakan salah satu tokoh masyara¬kat desa tersebut menganggap¬nya sebagai orang biasa saja, tidak ada yang istimewa. Berikut penuturan H. Memed di rumah¬nya yang berjarak hanya sekitar 100 M dari rumah Saefudin.

Walaupun dekat dengan rumah Saefudin, istri dan anak saya belum pernah melihat langsung emas yang menghebohkan itu. Saya sen¬diri sudah melihat, tetapi ketika itu saya hanya mene¬mani Kapolsek Semplak dan Ranca Bungur yang ingin me¬lihat langsung emasnya Saefudin.
Karena menurut saya, dia bukan orang sakti atau hebat seperti yang dianggap orang sekarang-sekarang ini. Setelah dia menemukan batangan dan perhiasan “emas” itu, semakin banyak orang datang ke dia untuk minta bantuan. Dan air sumurnya pun dianggap berkah.
Bahkan menurut saya, Sae-fudin itu orang yang berbuat syirik. Dia itu mengaku mem-punyai makhluk gaib yang membisikinya. Dia punya pengajian setiap malam jum’at. Pengajiannya itu, menyulut pro kontra. Banyak tokoh masyarakat yang tidak setuju pengajiannya itu. Belum lagi,
kegiatan dia dan teman-teman-nya mendatangi kuburan. Kan meminta bantuan makhluk gaib dan meminta kuburan itu perbuatan syirik. Karena per-buatannya itu tidak sesuai aqi- dah saya, maka saya tidak ikut- ikutan orang mendatanginya untuk minta bantuan.
Dan dia telah membohongi kita. Katanya emas yang ditemu-kan cuma sepuluh batang. Pada-hal saat saya ikut hadir ketika Saefudin dipanggil oleh kepoli-sian, saya menyaksikan sendiri bahwa emas itu lengkap ada lima belas batang. Dia bohong kalau yang ada hanya sepuluh dan yang lima ada tetapi masih gaib. Ingin membesar-besarkan masalah. Juga masalah emas atau bukan emas. Waktu dia baru menemukan, jelas sekali dia mengatakan bahwa itu emas. Sekarang, setelah pihak yang berwajib mengatakan bahwa itu hanya tembaga, dia mengingkari bahwa dulu dia pernah bilang kalau itu emas.
Dia cuma orang biasa, seperti anak-anak muda lainnya. Dulu dia tukang ojek yang suka mabuk- mabukan dengan anak-anak muda sini. Bahkan pernah dia ditangkap Koramil karena waktu mabuk, dia merusak rumah or¬ang. Kemudian tiba-tiba dia men¬jadi orang suci, bagaimana itu?
Dia tidak aktif di Masjid. Padahal Masjid itu adanya di samping rumahnya. Dia mulai suka ke Masjid setelah kita
membangun tangga Masjid. Dia minta pekerjaan untuk ikut membangun tangga Mas¬jid. Kita beri dia pekerjaan itu. Setelah itu, barulah dia mau sholat di Masjid.
Pengajian yang diadakan di rumahnya, diikuti sekitar dua- puluhan orang. Tetapi dia punya empat orang yang harus selalu mendampinginya agar bisa men-datangkan jinnya. Harus ada salah seorang dari empat orang itu jika mau memanggil jinnya. Jika tidak ada sama sekali, tidak bisa datang.
Dan sebenarnya yang datang minta bantuannya untuk me¬ngobati, berasal dari luar kam¬pung ini. Kalau orang-orang sekitar sini tidak ada yang minta bantuan dia. Biasa kan. orang biasanya terkenalnya dan hebat-nya di luar. Sementara orang sini menganggapnya biasa saja.
Saya pribadi tidak bisa mela-rang orang ketika datang ke dia. Tetapi saya dan tokoh masya-rakat lainnya hanya melindungi keluarga saja. Ketika istri dan anak saya mau datang minta air berkahnya, saya larang. Saya katakan bahwa ini syirik.
Walaupun suatu saat mung-kin saja kita laporkan ini kepada MUI atau yang berwenang secara agama, jika kesalahan ini membesar. Kita juga punya pengajian bulanan dengan ust. Didin Hafidhudin, mungkin akan kita konsultasikan masalah ini ke beliau.


Ghoib Edisi No. 19 Th. 2/1425 H/2004 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar